Jl. Boulevard Timur Raya, Kelapa Gading - Jakarta 14250
T. (+6221) 4521001, 4520201    F. (+6221) 4520578
E. gadingpluit@gadingpluit-hospital.com

Gawat Darurat: (+6221) 4-5858-258

SINDROM METABOLIK : KENALI GEJALA DIABETES INSIPIDUS

SINDROM METABOLIK : KENALI GEJALA DIABETES INSIPIDUS

SINDROM METABOLIK : KENALI GEJALA DIABETES INSIPIDUS

Meski jarang terjadi, gejala diabetes insipidus perlu dikenali masyarakat. Hal itu bertujuan untuk menghindari kesalahan pengobatan bagi penderita penyakit tersebut.

Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Gading Pluit, Benny Santosa, mengatakan hal itu dalam seminar ilmiah bertema “Manajemen Gangguan Endokrin dan Tumor”, Sabtu (10/11/2018), di Jakarta.

Diabetes insipidus ditandai sulit mengontrol pengeluaran urine disertai rasa haus terus-menerus. Urine yang dikeluarkan setiap hari mencapai 12 liter. “Gejala khasnya kencing terus, tak mengenal waktu. Kalau dibiarkan bisa bahaya karena pasien akan terkena dehidrasi, syok, bahkan koma,” kata Benny. Meski gejalanya sama dengan diabetes melitus (DM), dua penyakit itu tak saling berhubungan. Penyakit DM disebabkan kadar glukosa dalam darah melewati batas normal.

Adapun diabetes insipidus terjadi karena gangguan hormone antidiuretik (ADH). Hormon yang dihasilkan kelenjar kecil dalam otak atau hipotalamus itu berfungsi mengurangi jumlah cairan yang terbuang melalui ginjal dalam bentuk urine. Penyakit itu terjadi jika pasien pernah mengalami trauma kecelakaan, operasi tumor, penyempitan pembuluh darah, leukemia, radiasi, dan mengonsumsi obat-obat tertentu berlebihan. Penyakit tersebut juga dipengaruhi faktor genetika.

“Kasusnya di Indonesia belum banyak. Namun, tenaga kesehatan dan masyarakat perlu tahu gejalanya agar tidak langsung menganggap hal itu ialah diabetes melitus atau gangguan prostat. Itu bisa jadi merupakan gejala diabetes insipidus,” ujarnya.

Pengobatan diabetes insipidus dilakukan dengan mengoreksi deficit air dan mengurangi kehilangan air berlebihan lewat urine. Menurut Benny, bagi pasien diabetes insipidus kronis ataupun akut, terapi dilakukan dengan member hormone buatan. Hormone yang berfungsi menggantikan peran ADH itu dipakai penderita secara permanen dengan disuntik atau dihirup.

Cegah Obesitas
Sementara dokter sepesialis bedah dari Rumah Sakit Gading Pluit, Peter Ian Limas, mengatakan, salah satu faktor risiko diabetes adalah kegemuka atau obesistas. Obesitas ditandai dengan penambahan berat badan lebih dari 68 kilogram.

Sejauh ini tren proporsi obesitas pada orang dewasa terus meningkat, yakni 10,5 persen (Riset Kesehatan Dasar 2007), 14,8 persen (Riskesdas 2013), dan 21,8 persen (Riskesdas 2018). Tingginya obesitas di Indonesia dipengaruhi kebiasaan masyarakat Indonesia yang memprioritaskan asupan karbohidrat dan lemak dibandingkan dengan vitamin dan mineral.

Untuk mencegah obesitas, pola hidup perlu diubah seperti menghindari makanan berlemak dan rutin berolahraga. Bagi penyandang obesitas dengan berat badan lebih dari 80 kilogram, salah satu terapi paling efektif adalah terapi bariatric atau operasi pengecilan lambung.

“Terapi ini dengan cara kita mengubah ususnya agar makan sedikit saja sudah kenyang atau penyerapannya sedikit,” ujarnya. Bedah bariatric bertujuan mengatasi penyakit tambahan terkait obesitas seperti hipertensi dan kardiovaskular. Jadi, itu bukan merupakan terapi untuk melangsingkan badan,” ujarnya.

Seperti dimuat di KORAN KOMPAS - Senin, 12 November 2018