Jl. Boulevard Timur Raya, Kelapa Gading - Jakarta 14250
T. (+6221) 4521001, 4520201    F. (+6221) 4520578
E. gadingpluit@gadingpluit-hospital.com

Gawat Darurat: (+6221) 4-5858-258

SERING KESEMUTAN, AWAS NEUROPATI

SERING KESEMUTAN, AWAS NEUROPATI

SERING KESEMUTAN, AWAS NEUROPATI

Neuropati adalah gangguan dan kerusakan saraf, seperti hilangnya sensasi rasa dan gerak, hingga kecacatan permanen. Diketahui satu dari tiga orang sudah mulai mengalami gejala neuropati sejak usia 26–30 tahun. Gejala awal kebas dan kesemutan ini sering diremehkan atau tidak disadari, padahal gejala ringan ini merupakan tanda awal kerusakan sel saraf.

Neuropati memeberikan beragam ketidaknyamanan dalam beraktivitas sehari–hari. Jika dibiarkan, gejala neuropati, seperti kram, kebas, dan kesemutan, dapat menetap dan mengarah pada kelumpuhan. Saraf dengan kerusakan lebih dari 50% sudah tidak dapat diperbaiki. Contoh salah satu kerusakan saraf, yaitu Carpal Tunnel Syndrome (CTS). CTS dengan kondisi parah dapat menyebabkan rasa nyeri dengan frekuensi serangan yang semakin sering bahkan menetap. Rasa nyeri tersebut dapat membuat fungsi tangan menjadi terbatas sehingga dapat menimbulkan kelumpuhan otot dan mengakibatkan kecacatan yang berpengaruh pada pekerjaan penderita. Dari fisik bisa terlihat, tergantung jenis saraf yang terkena, bila saraf tangan yang terkena dan tidak mendapatkan pengobatan yang baik, telapak dan jari–jari tangan menjadi melengkung.

Infeksi akibat neuropati banyak dialami mereka yang mengalami kebas atau mati rasa atau baal sehingga tidak terasa ketika luka. Luka yang terjadi sangat mungkin terkena infeksi. Infeksi semakin parah ketika dialami penderita diabetes. Pada penderita diabetes, angka prevalensi neuropati meningkat menjadi 50% atau 1 dari 2 penderita. Penurunan kualitas hidup terjadi ketika intensitas terjadinya gejala neuropati semakin sering. Risiko neuropati bisa terjadi pada siapa saja. Bahkan, kini gejala neuropati sudah dirasakan mereka yang berumur 26-30 tahun, yaitu 1 dari 3 orang. Hal ini ditunjang faktor gaya hidup dengan aktivitas keseharian yang terus menerus dan berulang, seperti beraktivitas dengan gadget (61,5%), mengendarai motor atau mobil (58,5%), duduk dengan posisi sama dalam waktu lama (53,7%), dan mengetik dengan komputer (52,8%).

Rendahnya kesadaran konsumsi vitamin B, hanya 30,2% yang mengonsumsi, memberikan kontribusi terhadap tingginya risiko neuropati.

 

Neuropati Dapat dicegah

Berbagai risiko yang ditimbulkan akibat neuropati bukan berarti penyakit ini tidak bisa dicegah. Gangguan dan kerusakan saraf ini dapat dicegah dan diobati sebelum menjadi fatal. Untuk upaya pencegahan, sebenarnya sederhana saja, yaitu dengan menjalani gaya hidup sehat. Pastikan juga berolahraga secara teratur, kemudian imbangi dengan istirahat cukup.

Pola makan dengan gizi seimbang juga harus diterapkan untuk mencukupi kebutuhan gizi harian serta mengonsumsi vitamin neurotropik satu kali sehari sejak dini secara teratur atau sesuai petunjuk dokter. Vitamin neuropatik terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12 yang berfungsi memperbaiki gangguan metabolisme sel saraf dan memberikan asupan yang dibutuhkan supaya saraf dapat bekerja dengan baik.

Melihat dampak yang diakibatkan neuropati, sebaiknya masyarakat sudah mulai waspada dengan gejala neuropati. Salah satunya mengalami kesemutan. Memang tidak semua kesemutan merupakan pertanda seseorang terkena neuropati, tetapi ada tanda yang khas. Kesemutan yang dirasakan sebentar karena posisi tertentu, lalu gejalanya hilang, itu masih normal. Tetapi, kalau tanpa posisi tertentu sudah kesemutan, itu sudah neuropati. Kesemutan akibat neuropati sering berulang dan intensitasnya semakin berat.

Durasi awalnya singkat, hanya beberapa menit sampai jam, lantas hilang. Tidak lama kemudian, muncul lagi gejala kesemutan itu. Kondisi ini berarti neuropati. Terutama bila dirasakan malam hari. Padahal, pada malam hari pada saat beristirahat sudah tidak ada lagi orientasi dan perhatian karena tubuh sudah lepas dari segala aktivitas sehingga harusnya kesemutan tidak terjadi.

Efikasi penggunaan kombinasi vitamin neurotropik yang membuktikan bahwa konsumsi kombinasi vitamin neurotropik secara rutin dan berkala dapat mengurangi gejala neuropati, seperti kebas, kesemutan, rasa terbakar, dan rasa sakit secara signifikan. Kombinasi vitamin neurotropik memiliki profil toleransi yang baik sehingga aman dikonsumsi jangka panjang.

Seperti dimuat di KORAN SINDO, TERBIT: KAMIS, 09 AGUSTUS 2018