Jl. Boulevard Timur Raya, Kelapa Gading - Jakarta 14250
T. (+6221) 4521001, 4520201    F. (+6221) 4520578
E. gadingpluit@gadingpluit-hospital.com

Gawat Darurat: (+6221) 4-5858-258

RABA NADI, CARA SEDERHANA CEGAH SERANGAN STROKE

RABA NADI, CARA SEDERHANA CEGAH SERANGAN STROKE

RABA NADI, CARA SEDERHANA CEGAH SERANGAN STROKE

Serangan stroke bisa membuat lumpuh, hingga mendatangkan maut. Karena itu, langkah pencegahan amatlah penting dan salah satunya bisa dilakukan dengan rutin meraba nadi sendiri. Kok bisa? Salah satu penyebab stroke adalah fibrilasi atrium, yakni kelainan irama jantung berupa detak jantung yang tidak reguler, 40% kejadian stroke berhubungan dengan adanya fibrilasi atrium. Denyut yang tidak teratur, membuat sirkulasi darah dalam jantung tidak normal.  Darah cenderung berputar-putar dan memudahkan terbentuknya gumpalan darah. Paling sering, gumpalan itu terjadi pada bagian yang disebut kuping jantung. ketika gumpalan itu keluar dari jantung terbawa aliran darah, lalu tersangkut menutup pembuluh darah di otak, terjadilah stroke. Penderita fibrilasi atrium berisiko lima kali lebih tinggi untuk mengalami stroke dari pada orang tanpa kelainan itu.

Stroke pada penderita fibrilasi memiliki tingkat keparahan yang tinggi, bersifat lama dan sering berulang. Banyak kasus stroke pada penderita fibrilasi atrium yang berakhir dengan kelumpuhan. Rata-rata 50% pasien yang terkena stroke ini akan mengalami stroke lagi dalam setahun. Diperkirakan ada 2,2 juta penderita fibrilasi atrium. Padahal, deteksi dini fibrilasi mudah dilakukan, yakni dengan rutin meraba nadi sendiri, apakah denyutnya teratur dan tidak. Karenanya, jumlah asosiasi dibidang kardiovaskuler pun menggencarkan kampanye menari, kependekan dari meraba nadi sendiri. Raba nadi dipergelangan tangan di area bawah tulang ibu jari dengan menempelkan tiga jari yaitu telunjuk, jari tengah dan jari manis, tekan sedikit. Rasakan apakah irama denyutnya teratur atau ada periode denyutnya lebih cepat, denyutnya hilang dan tidak teratur.

Febrilasi atrium terjadi karena abnormalitas sistem listrik jantung yang mengatur denyut. Itu terjadi karena faktor genetik, usia lanjut, hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung koroner. Menari sangat dianjurkan rutin dilakukan orang-orang yang memiliki faktor risiko tersebut. Jika curiga denyut jantung tidak teratur, sebaiknya periksakan diri ke dokter. Jika terbukti, terapi akan diberikan. terapinya antara lain, teknik ablasi kateter, pemasangan alat LAA Closure, serta pemakaian obat antikoagulan oral generasi baru (OKB) untuk mencegah pengumpulan darah di jantung yang bisa memicu stroke. Sayangnya, OKB belum masuk jaminan BPJS Kesehatan.

Seperti dikutip di MEDIA INDONESIA - RABU, 18 SEPTEMBER 2019.