Jl. Boulevard Timur Raya, Kelapa Gading - Jakarta 14250
T. (+6221) 4521001, 4520201    F. (+6221) 4520578
E. gadingpluit@gadingpluit-hospital.com

Gawat Darurat: (+6221) 4-5858-258

PERBEDAAN GANGGUAN SALURAN CERNA BIASA DENGAN GANGGUAN SALURAN CERNA KARENA COVID-19

PERBEDAAN GANGGUAN SALURAN CERNA BIASA DENGAN GANGGUAN SALURAN CERNA KARENA COVID-19

Penyakit Covid-19 memiliki 3 gejala utama yaitu demam, batuk dan juga sesak napas, namun menurut WHO banyak juga orang yang terinfeksi gejala ringan yaitu salah satunya diare. Dalam situs resmi WHO disebutkan, sebagian pasien yang terinfeksi Covid-19 mengalami rasa nyeri di seluruh tubuh, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan atau pun diare. Banyak pasien Covid-19 yang mengalami diare sebagai gejala awalnya dan tidak menunjukkan gejala gangguan pernapasan. Penelitian yang dimuat dalam American Journal of Gastroenterology juga menyebutkan pasien Covid-19 bisa mengalami gangguan pencernaan, seperti diare, muntah, dan mual-mual. Gejala diare dialami sekitar 20 persen dari pasien positif Covid-19 yang diteliti. Sisanya mengalami diare sekitar 10 hari setelah mereka mengalami gangguan pernapasan. Pada sebagian kasus, gangguan pencernaan, terutama diare, bisa jadi gejala awal Covid-19 namun gejala ini (diare) bisa juga muncul di akhir, atau bahkan tidak muncul bersama dengan demam dan gangguan pernapasan.

Secara umum penyebab diare adalah karena infeksi, tetapi diare bisa disebabkan karena proses gangguan pada saluran cerna akibat makanan yang dikonsumsi dalam jumlah yang cukup banyak, sehingga tubuh kita tidak mampu melakukan detoksikasi atau terkadang makanan baru yang tubuh kita belum kenal.

Diare bisa saja terjadi pada pasien dengan covid-19 dan memiliki gejala yang sama dengan diare biasa (mual, kembung, frekuensi buang air yang sama). Penyebab diare menjadi salah satu gejala covid-19 yaitu adalah bahwa SARS Cov-2 bisa masuk dalam tubuh kita melalui mata, hidung dan mulut, kemudian virus bisa menempel kedalam sel tubuh kita lalu virus melakukan infeksi artinya melakukan penetrasi didalam sel, sampai akhirnya sel pecah dan virus menyebar ke seluruh tubuh. Virus memang bisa memperbanyak diri dan berkembang di saluran cerna, seperti halnya saluran napas, serta menyebabkan diare. Para ilmuwan meyakini virus bisa masuk ke sistem tubuh melalui reseptor, baik di saluran pencernaan atas dan bawah.Virus corona bisa masuk ke saluran pencernaan lewat reseptor tertentu, yaitu ACE2.Jadi, bisa menginfeksi saluran cerna dan virus bisa positif ditemukan di feses lewat cek feses. Di saluran cerna bawah ditemukan 100 kali lipat dibanding di organ pernapasan.

Gejala diare pada pasien covid-19 bisa muncul di hari kedua sampai dengan hari keempat. Penelitian di RSCM, pada Covid-19 bisa menimbulkan gejala cukup banyak, misalnya ada mual, muntah, diare, anoreksia atau hilang nafsu makan. Secara umum belum pernah dilaporkan adanya kondisi yang fatal akibat diare, namun kita harus pastikan mengonsumsi makanan dan minuman yang cukup dengan cara memastikan frekuensi buang air kecil dan warnanya. Buang air kecil yang umum biasanya minimal 5 kali dalam sehari dengan jumlah yang cukup banyak dan cairan berwarna kuning yang tidak pekat. Kecukupan hidrasi merupakan hal yang harus kita jaga dan apabila kita kekurangan cairan 3% saja bisa menyebabkan penurunan dalam kemampuan  berfikir.

Ada 3 hal yang menyebabkan seseorang bisa mengalami konstipasi yaitu kecukupan minum, aktivitas (jalan kaki) serta komposisi serat dalam makanan.  Secara umum gambaran diare yang terjadi pada pasien covid-19 bisa dikatakan sama dengan diare yang terjadi pada infeksi yang lain tapi yang membedakan yaitu penyebabnya, seperti misalkan apabila kita habis makan nasi goreng kemudian merasakan sakit perut dan diare, itu akan berbeda dengan kita baru bepergian ke luar kota dengan makanan yang terjaga, tetapi dengan makanan yang terjaga tersebut tetap menyebabkan diare dan rasa lelah itu akan menjadi perhatian bahwa kita bisa saja terinfeksi covid-19. Biasanya diare yang disebabkan karena makanan saja selesai dalam waktu 2 hari  dan apabila lebih dari 2 hari, kita harus waspada.

Selain diare, para ahli menyebutkan bahwa sekarang yang bisa juga menjadi gejala virus corona adalah kehilangan nafsu makan dan muntah.Hal ini bisa terjadi tanpa adanya gejala seperti flu, demam, dan sakit tenggorokan yang selama ini kita ketahui.Para peneliti di Stanford University, Amerika Serikat menemukan sepertiga dari pasien kasus COVID-19 ringan memiliki gejala yang memengaruhi sistem pencernaan.Studi baru-baru ini yang diterbitkan oleh para peneliti di Beijing, Tiongkok menemukan di antara 3 hingga 79 persen orang dengan COVID-19 mengalami gejala gastrointestinal. Penelitian tersebut menemukan gejala muntah-muntah sering terjadi pada pasien virus corona usia anak-anak. Sementara itu, kehilangan selera makan juga menjadi gejala yang dilaporkan para ahli. Menurut penelitian yang sama dari Beijing, sekitar 39,9 persen hingga 50,2 persen orang yang terkena virus corona mengalami gejala kehilangan nafsu makan.

Di sisi lain, jika sebelumnya sudah memiliki masalah pencernaan, memang sebaiknya lebih waspada lagi. Misalnya masalah IBD (inflammatory bowel disease), wajib menjaga kebersihan diri lebih baik lagi. Hal ini penting untuk menghindari berbagai virus. Inflammatory Bowel Disease adalah peradangan kronis di saluran cerna, biasanya ada luka di ususnya. Penyebabnya sampai saat ini belum jelas. Namun, masalah kesehatan ini bisa berkaitan dengan autoimun.

Sementara, kalau memang sedang diare (entah karena virus corona atau bukan), sebaiknya cukupi kebutuhan cairan tubuh. Apabila berisiko tertular seperti kontak erat dengan pasien covid-19, berada di tengah  kerumunan atau habis bepergian ke luar kota, ada baiknya melakukan pemeriksaan PCR/SWAB untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap resiko infeksi covid-19.

=============================================================================

Penulis

dr. Chrispian Oktafbipian Mamudi, Sp.PD-KP, FINASIM
Dokter Spesialis Penyakit Dalam  - Konsultan Paru

 

Publish: 1 April 2021