Jl. Boulevard Timur Raya, Kelapa Gading - Jakarta 14250
T. (+6221) 4521001, 4520201    F. (+6221) 4520578
E. gadingpluit@gadingpluit-hospital.com

Gawat Darurat: (+6221) 4-5858-258

PEMERIKSAAN GENETIK UNTUK MENGUKUR RESIKO KANKER

PEMERIKSAAN GENETIK UNTUK MENGUKUR RESIKO KANKER

PEMERIKSAAN GENETIK UNTUK MENGUKUR RESIKO KANKER

Penyakit kanker tidak lepas dari faktor mutasi genetik. Mutasi genetiklah yang menjadikan sel tubuh normal menjadi sel kanker yang ganas, berkembang biak tidak terkendali, dan menyebar ke berbagai organ tubuh. 

Saat ini teknologi penanggulangan kanker juga mengarah pada pendeteksian mutasi genetik tersebut. Peneliti Utama pada Stem Cell and Cancer Institut, Ahmad Rusdan dan Handoyo Utomo, mengatakan teknologi itu juga sudah diterapkan di Indonesia. Dengan teknologi tersebut, bisa diketahui apakah pada diri seseorang ada mutasi genetik yang berpotensi kanker di kemudian hari. Contoh yang paling popular dalam kasus ini ialah aktris Hollywood Angelina Jolie.

“Karena memiliki riwayat keluara penderita kanker payudara dan ovarium, Angelina melakukan pemeriksaan genetic dan diketahui mewarisi mutasi gen BRCA 1 yang membuatnya lebih beresiko menderita kanker payudara di masa mendatang. Sebelumnya, sang ibu meninggal akibat kanker payudara,” ujar Ahmad di sela seminar kedokteran Perkembangan Terkini Penanganan Kanker Ke-9, di Rumah Sakit Gading Pluit, Jakarta beberapa waktu lalu.

Karena itulah, lanjut Ahmad, Angelina memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan payudara (mastektomi) guna menghindari terserang kanker payudara. Selain untuk kanker payudara, pemeriksaan mutasi genetik juga bsa dilakukan untuk kanker ovarium dan kanker usus besar. Pemeriksaan itu terutama dianjurkan untuk orang-orang berisiko tinggi, yakni mereka yang memiliki anggota keluarga penderita kanker-kanker tersebut di usia muda.

Namun, menurut Ahmad pemeriksaan itu tidak berarti harus diikuti dengan tindakan radikal seperti yang dilakukan Angelina Jolie. Pemeriksaan tersebut, jika hasilnya positif ada mutasi genetik, menjadi pengingat bahwa seseorang memiliki risiko tinggi untuk terkena kanker. “Karena itu, ia wajib melakukan tindakan pencegahan dan lebih waspada. Seperti, menjaga gaya hidup tetap sehat serta melakukan pemeriksaan berkala untuk mendeteksi dini kanker sebab semakin dini kanker ditemukan dan diterapi, semakin baik hasil pengobatannya,” terang Ahmad.

Selain untuk mengukur risiko seseorang terserang kanker, sambung Ahmad, pemeriksaan genetik juga dibutuhkan pasien kanker. Hasilnya untuk membantu merancang pengobatan yang lebih presisi.

Gaya hidup sehat
Pada kesempatan sama, Ketua Komite Penanggulangan Kanker Nasional Prof. dr. Soehartati A. Gondhowiardjo, Sp.Rad(K) mengingatkan pentingnya penerapan gaya hidup sehat untuk mencegah kanker. “Penelitian menunjukkan dengan gaya hidup sehat saja, risiko menderita kanker bisa ditekan hingga 43%,” ujarnya.

Pemerintah, lanjutnya, mengampanyekan gaya hidup sehat dengan slogan cerdik, yakni kependekan dari cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet sehat dnegan kalori seimbang, istirahat cukup, dan kelola stress.

Seperti dikutip di KORAN MEDIA INDONESIA – Rabu, 28 November 2018