Jl. Boulevard Timur Raya, Kelapa Gading - Jakarta 14250
T. (+6221) 4521001, 4520201    F. (+6221) 4520578
E. gadingpluit@gadingpluit-hospital.com

Gawat Darurat: (+6221) 4-5858-258

MAIN GAWAI PICU RABUN

MAIN GAWAI PICU RABUN

MAIN GAWAI PICU RABUN

Bagi anak, bermain gawai bisa sangat mengasyikkan. Namun, dibalik itu ada ancaman yang mengintai kesehatan si kecil. Orang tua perlu mendampingi dan membuat batasan. Penggunaan gawai pada anak-anak kini memang tak terhindarkan. Namun, orang tua wajib mengawasi dan membatasi penggunaannya. Salah-salah, anak bisa terkena gangguan mata jika penggunaan gawai yang tak terkontrol. Penggunaan gawai pada anak bisa menyebabkan gangguan dan kelainan. Gangguan itu, antara lain kelelahan mata dan mata kering. Adapun kelainan yang berdampak jangka panjang, yakni refraksi seperti  miopia (rabun jauh). Terlalu lama melihat layar gawai bisa berdampak mengganggu refraksi mata. Yang paling serius bisa berdampak mata minus (miopia).

 

Batasan

Pembatasan gawai pada anak penting agar bisa terhindar dari gangguan mata. Sesuai Standar Akademi Pediatri Amerika Serikat (AAP) yang jamak diacu, anak-anak usia 0-2 tahun tak boleh terpapar layar digital baik itu gawai, televisi, dan komputer. Batasan melihat layar baik itu ponsel pintar, televise, maupun tablet, untuk usia 0-2 tahun itu tidak boleh sama sekali. Semua dokter  menyarankan begitu. Untuk usia 3-5 tahun, batasannya satu jam dalam sehari. Sementara itu, untuk umur 6-8 tahun ialah 2 jam dan usia 8-13 tahun sebanyak tiga jam. Gejala ganggua tersebut bisa diamati. Anak umumnya mengeluhkan mata perih seperti berpasir. Gejala lainnya, bisa diamati ketika anak kerap mengusap-usap mata dan matanya berkedip terlalu banyak.

Normalnya, anak berkedip 15-20 kali dalam 1 menit. Biasanya dibawah usia 4 tahun anak belum bisa bilang sakit. Dari gejala, jika anak berkedip-kedip dan mengucek mata, itu sudah mulai harus dicurigai mengalami gangguan atau bisa jadi karena alergi. Anak yang mengalami gejala-gejala tersebut, harus diperiksakan ke dokter spesialis mata. Anak umur 2-3 tahun harusnya sudah fiksasi ke objek tapi kalau belum bisa melihat focus, itu bisa jadi ada kelainan pada mata dan harus segera diperiksakan. Deteksi harus sedini-dininya. Orang tua pun harus mengawasi anak saat bermain gawai agar tak terlalu dekat dengan layar gawai. Jarak minimalnya adalah 30 sentimeter (cm) untuk ponsel pintar dan tablet serta 50 cm untuk televisi.

 

Terlambat bicara

Para orang tua harus selalu mendampingi anak dalam masa tumbuh kembang mereka dan mencurahkan kasih sayang pada mereka.  Para orang tua juga harus menstimulasi kemampuan anak dengan hal-hal sederhana. Seperti menyapa, bercerita, mengajak jalan-jalan, atau menonton acara anak di televisi bersama-sama. Khusus soal gawai  dan menonton televisi, disarankan agar anak tidak asyik sendiri dengan keduanya. Membiarkan anak terlalu lama menonton televisi  atau bermain gawai sendirian bisa menyebabkan keterlambatan bicara sebab jika asyik dengan gawai, anak hanya diam tidak ada interaksi.

 

Dampak Negatif Gawai bagi Anak

-          Gangguan mata.

-          Bahaya radiasi.

-          Obesitas.

-          Gangguan tidur.

-          Berkurangnya kemampuan bersosialisasi.

-          Berperilaku agresif.

-          Kecanduan.

 

Risiko Gangguan Mata akibat Gawai

-          Mata lelah (astenopia).

-          Mata kering.

-          Mata juling (strabismus).

-          Rabun jauh (miopia).

 

Kiat Cegah Gangguan Mata

-          Jaga jarak antara mata dan layar. Atur jarak gawai 30-40 cm dari pandangan mata.

-          Sesuaikan pengaturan cahaya layar dengan pencahayaan ruangan.

-          Batasi waktu penggunaan gadget pada anak.

-          Hentikan sepenggunaan gadget jika anak mengalami gejala gangguan penglihatan.

 

Seperti dimuat di KORAN MEDIA INDONESIA – Rabu. 1 Agustus 2018