Jl. Boulevard Timur Raya, Kelapa Gading - Jakarta 14250
T. (+6221) 4521001, 4520201    F. (+6221) 4520578
E. gadingpluit@gadingpluit-hospital.com

Gawat Darurat: (+6221) 4-5858-258

HARAPAN BESAR SEMBUH DARI SKIZOFRENIA

HARAPAN BESAR SEMBUH DARI SKIZOFRENIA

HARAPAN BESAR SEMBUH DARI SKIZOFRENIA

Penanganan skizofrenia bisa dilakukan di pelayanan kesehatan primer seperti Puskesmas. Tidak ada satu pun negara yang terbebas dari ancaman gangguan kesehatan jiwa atau mental, termasuk Indonesia. Skizofrenia masih menjadi momok bagi sebagian besar negara di Asia Tenggara. Namun, penyakit jiwa ini kerap dianggap sebagai kutukan, sehingga penanganannya sering salah.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (RiKesDas) pada 2013, prevalensi gangguan jiwa emosional pada usia 15 tahun ke atas mencapai 14 juta orang atau 6 persen dari penduduk Indonesia. Adapun prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia, mencapai 400 ribu atau 1,7 per seribu penduduk. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setidaknya 21 juta orang menderita skizofrenia. Orang yang skizofrenia bisa sembuh. Banyak harapan baik untuk penderita gangguan jiwa bisa hidup seperti kebanyakan orang normal lainnya.

Skizofrenia merupakan penyakit jiwa terberat dan paling kronis. Biasanya, penderita memiliki gangguan dalam memproses pikirannya, sehingga timbul halusinasi, delusi, pikiran yang tidak jelas, dan tingkah laku dan bicara yang tidak wajar. Gejala ini dikenal sebagai gejala psikotik yang menyebabkan penderita skizofrenia tidak bisa berinteraksi dengan orang lain. Kesempatan penderita skizofrenia untuk sembuh semakin besar apabila ia lebih cepat dikenali. Namun, kebanyakan masyarakat Indonesia mengabaikan gejala awal dan pada tahap lanjut penderita justru dirujuk kepada “orang pintar” atau dukun, bukan tenaga medis. Bahkan, tidak sedikit keluarga yang memperlakukan penderita dengan semena-mena dengan cara dikurung atau dipasung karena malu.

Semakin lama penderita skizofrenia tidak ditangani, semakin lama perjalanan penyakitnya, sehingga pemulihannya tidak maksimal. Keluarga dan lingkungan memiliki peran besar agar peluang penderita skizofrenia bisa sembuh. Penderita akan diberi pengobatan jangka panjang untuk mengontrol skizofrenia yang dialami oleh pasien. Untuk skizofrenia, obat adalah penanganan yang paling utama. Meski begitu, keluarga dan lingkungan juga perlu diberikan edukasi agar penanganannya baik. Dengan begitu, penderita skizofrenia bisa menjalani hidup normal kembali. Adapun pertanda awal penderita skizofrenia itu sangat bervariasi. Biasanya keluarga bisa dengan mudah mengenali gejala awalnya, misalnya menarik diri dari masyarakat, tidak fokus saat berbicara, behalusianasi, atau penilaian salah terhadap orang lain yang tidak bisa dikoreksi.

Intinya, ada gangguan pikiran, perilaku, dan perasaan pada pengidap skizofrenia. Jika sudah ada perubahan seperti itu, sebaiknya orang disekitarnya mulai berkonsultasi dengan tenaga medis. Apalagi sekarang tidak sedikit anak-anak yang sudah mengidap gangguan mental, tapi rasio paling besar dimulai pada usia remaja. Tidak ada faktor tunggal yang menyebabkan orang terkena gangguan kejiwaan ini. Artinya, skizofrenia bisa terjadi pada siapa saja. Sayangnya, secara global tidak semua masyarakat bisa mendapatkan akses pelayanan kesehatan jiwa ini dengan baik.

Beberapa faktor yang membuat penderita skizofrenia tidak membaik diantaranya stigma masyarakat yang buruk, kurangnya sumber daya manusia, model pelayanan yang terfragmentasi, dan kurangnya kapasitas penelitian untuk kontribusi kesehatan jiwa. Di Indonesia, rendahnya jumlah psikiater menjadi hambatan dalam penanganan skizofrenia. Rasio psikiater di Indonesia adalah 4 psikiater untuk 1 juta orang penduduk Indonesia. Sebanyak 60 persen psikiater berada di Jawa-dari jumlah tersebut 25 persen berada di Jakarta. Hal tersebut membuat akses layanan kesehatan sangat sulit.

Jika skizofrenia bisa ditangani lewat Puskesmas, tugas psikiater memberi supervisi pelayanan dokter di pelayanan primer. Setidaknya ada 11 diagnosis dengan tanpa komplikasi yang bisa ditangani di puskesmas. Dengan begitu, jumlah penderita skizofrenia bisa ditekan. Dalam pengobatan skizofrenia yang efektif dan efisien diperlukan model manajemen layanan yang komprehensif dan mekanisme pembiayaan yang memadai. Skema pembiayaan melalui sistem asuransi nasional atau swasta pada negara di Asia Tenggara perlu memasukan kesehatan jiwa.

Ini perlu dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kesehatan jiwa masyarakat. Apalagi skizofrenia adalah penyakit kronis yang membutuhkan penanganan yang sangat lama. masyarakat di negara berpenghasilan rendah dan menengah mengalokasikan kurang dari 2 persen dari anggaran kesehatan untuk perawatan dan pencegahan gangguan jiwa atau mental. Apabila ada satu orang yang mengalami gangguan jiwa di keluarga, masalah ekonomi tak hanya diderita pasien, tapi juga keluarga dan lingkungan. Apabila mereka ada yang berusia produktif, ia akan kehilangan banyak kesempatan untuk berkembang.

 

Seperti dikutip di KORAN TEMPO – Selasa, 4 September 2018