Jl. Boulevard Timur Raya, Kelapa Gading - Jakarta 14250
T. (+6221) 4521001, 4520201    F. (+6221) 4520578
E. gadingpluit@gadingpluit-hospital.com

Gawat Darurat: (+6221) 4-5858-258

BERKACA DARI KASUS SULLI, MENGAPA BANYAK TOKOH TERKENAL ALAMI DEPRESI

BERKACA DARI KASUS SULLI, MENGAPA BANYAK TOKOH TERKENAL ALAMI DEPRESI

BERKACA DARI KASUS SULLI, MENGAPA BANYAK TOKOH TERKENAL ALAMI DEPRESI?

Artis peran sekaligus penyanyi asal Korea, Choi Jin-ri atau yang dikenal dengan Sulli ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri di lantai 2 rumahnya di Seongnam, Seol, Senin (14/10/2019). Mantan personel grup f(x) itu diduga mengalami depresi parah yang membuatnya terpaksa mengakhiri hidupnya sendiri.

Tahun 2014, Sulli sempat mendapatkan perawatan untuk kesehatan mental karena mengidap serangan panik dan fobia sosial. Sulli bukan satu-satunya selebriti yang memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri. Bulan Juni lalu, aktris senior Korea Selatan Jeon Mi Seon juga meninggal dunia karena bunuh diri. Lalu di tahun 2017, vokalis Linkin Park Chester Bennington juga mengakhiri hidupnya dengan cara yang sama.

Lantas, mengapa banyak orang terkenal mengalami depresi hingga memilih mengakhiri hidupnya sendiri? Dokter spesialis kesehatan jiwa dr. Dharmawan AP, Sp.KJ, mengatakan, banyak selebriti biasanya belum siap untuk hidup dalam ketenaran dan hidup dalam kejaran target oleh agensi tempatnya bekerja. "Mereka jadi kecapaian. Jadwalnya padat. Kemana-mana harus manggung. Hidupnya serasa tidak ada yang lain cuma dijadikan mesin pencari uang," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (15/10/2019). Menurut Dharmawan, kondisi semacam ini biasanya terjadi saat seseorang berada di usia kritis atau di atas usia 20 tahun.

Menurut teori perkembangan psikososial Erik H. Erikson, di usia 20 hingga 30 tahunan, seseorang berada dalam tahap siap untuk membangun hubungan yang dekat dan berkomitmen dengan orang lain. Jika seseorang gagal melewati tahapan ini atau memiliki sedikit kepekaan diri, maka akan timbul rasa keterasingan dan jarak dalam interaksi dengan orang lain. Akibatnya, orang tersebut sering terisolasi secara emosi, merasa sendiri, hampa dan depresi. Usia-usia tersebut memang rentan mengalami depresi karena keberadaan atau eksistensi diri. Ini ada hubungannya dengan teori perkembangan psikososial yang digagas oleh Erik H.Erikson.

Krisis eksistensi Menurut Dharmawan di usia-usia tertentu, manusia bisa mengalami depresi karena eksistensi diri. Depresi semacam ini, juga bisa diakibatkan karena orang tersebut merasa terasing saat berinteraksi dengan orang lain. Usia 24 orang-orang biasanya mulai bingung apa yang ingin dikerjakan. Lalu di usia 28 sampai 30 mulai bingung lagi tentang apa yang dilakukannya itu adalah hal yang disukainya.

Di tahap itulah, menurut Dharmawan, kepekaan diri sangat dibutuhkan. Jika gagal mengenali diri sendiri, maka kita rentan untuk mengalami krisis eksistensi diri. Dharmawan menjelaskan, depresi bisa dialami siapa saja, tidak hanya mereka yang hidup dalam popularitas. Prevalensi depresi pun telah mencapai 15 persen dari seluruh populasi. "Depresi itu penyakit otak. Siapapun bisa mengalaminya dan variasinya macam-macam, ada depresi ringan, sedang dan depresi dengan gejala somatik hingga depresi berat dengan munculnya niat bunuh diri," ucapnya. Sayangnya, banyak orang yang tidak peka dengan gejala depresi. Penyebab utama depresi, imbuhnya adalah exhausted atau rasa lelah yang berlebihan. Untuk itu, ia menyarankan agar kita lebih mengenali diri sendiri sehingga tahu kapan waktunya tubuh kita memerlukan istirahat. Kita harus bisa mengenali diri sendiri sehingga bisa melakukan manajemen stres.

Seperti dimuat di KOMPAS.com – Selasa, 15-10-2019